Cari

06 Mei 2026

Rabu KTA

Secangkir kopi masih menemani di rumah ketika si bocil sudah sibuk memakai hoodie favorit, topi kecilnya, serta tripod yang selalu dibawa setiap kali berburu kereta. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung mengajak berangkat menuju jalur rel di Kutoarjo, tepat di bawah pohon asem yang membuat suasana terasa teduh meski udara cukup panas.
Bekal minuman dingin tak lupa dibawa, menjadi teman setia menunggu deru lokomotif melintas. Dari kejauhan, suara klakson kereta mulai terdengar, perlahan mendekat. Bocil pun berdiri antusias di tepi aman perlintasan, melambaikan tangan kecilnya ke arah masinis yang melintas.
Momen sederhana itu terasa semakin berkesan ketika beberapa masinis membalas sapaan dengan klakson maupun lambaian tangan dari kabin. Hal kecil yang mungkin singkat, tetapi mampu menghadirkan kebahagiaan panjang bagi seorang anak kecil pecinta kereta.
Di bawah pohon asem, sore itu bukan sekadar tentang menunggu kereta lewat. Ada tawa kecil dan kenangan sederhana yang kelak akan selalu menyenangkan untuk diceritakan kembali.

03 Mei 2026

Minggu Pram

Minggu, 3 Mei 2026 menjadi salah satu perjalanan sederhana yang melelahkan, tapi tetap menyimpan cerita menarik untuk dikenang. Pagi masih gelap ketika saya, istri, dan anak berangkat dari rumah menuju Stasiun Kutoarjo menggunakan sepeda motor. Motor kami titipkan di penitipan sebelah utara stasiun sebelum akhirnya bersiap naik KA Prameks pukul 05.10 WIB.
Sejak awal perjalanan suasana sudah ramai. Kereta penuh penumpang dan kami pun tidak kebagian tempat duduk. Berdiri sepanjang perjalanan pagi sambil menjaga anak ternyata cukup menguras tenaga. Meski begitu, suasana perjalanan tetap terasa menyenangkan karena anak terlihat antusias melihat kereta dan suasana stasiun sejak subuh.
Sekitar pukul 06.10 WIB kami tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta lalu melanjutkan perjalanan menggunakan KRL pukul 07.10 WIB menuju Stasiun Brambanan. Perjalanan singkat itu membawa kami tiba sekitar pukul 07.30 WIB. Dari stasiun, kami berjalan kaki menuju kawasan Candi Prambanan.
Harga tiket akhir pekan saat itu cukup lumayan, Rp65 ribu untuk dewasa dan Rp35 ribu untuk anak-anak. Kawasan candi sudah ramai wisatawan sejak pagi. Seperti biasa, istri sangat menikmati sesi foto di hampir setiap sudut candi. Mulai dari gerbang, taman, relief, sampai latar candi utama tidak luput dari kamera. Sementara saya mulai merasa bosan karena sesi foto terasa tidak ada habisnya. Tapi memang begitulah kalau liburan keluarga, ada yang sibuk menikmati pemandangan, ada yang sibuk menunggu sambil menjaga barang.
Menjelang siang kami kembali ke stasiun menggunakan becak motor dengan tarif Rp25 ribu. Sambil menunggu jadwal KRL pukul 11.30 WIB, kami makan dan minum terlebih dahulu di warung depan stasiun. Momen sederhana seperti makan setelah lelah berjalan justru terasa paling nikmat dalam perjalanan seperti ini.
Sesampainya lagi di Stasiun Tugu Yogyakarta sekitar pukul 12 siang, suasana semakin padat. Lagi-lagi kami tidak mendapat tempat duduk. Karena anak masih semangat melihat kereta, kami menemaninya ke perlintasan geser di sebelah timur stasiun. Cukup lama kami berada di sana hanya untuk melihat lalu lalang kereta yang tidak pernah membuat anak bosan.
Setelah sempat berjalan ke kawasan Malioboro, ternyata rasa capek mulai terasa. Anak justru ingin kembali lagi ke perlintasan kereta yang tadi. Akhirnya kami menurut saja, kembali menikmati suara klakson lokomotif, palang pintu geser, dan kereta yang silih berganti lewat.
Menjelang sore, tenaga benar-benar mulai habis. Kami pun memutuskan pulang menggunakan Prameks pukul 15.15 WIB. Dan seperti perjalanan sebelumnya, kereta kembali penuh sehingga kami harus berdiri lagi sampai tiba di Kutoarjo pukul 16.15 WIB.
Sesampainya di stasiun, sepeda motor diambil dengan biaya penitipan Rp4 ribu, lalu kami pulang ke rumah dengan badan lelah namun hati cukup puas. Perjalanan ini mungkin bukan liburan mewah, bukan juga perjalanan yang serba nyaman. Tapi justru dari perjalanan sederhana seperti inilah muncul cerita keluarga yang akan selalu diingat: berdiri di kereta penuh penumpang, menunggu istri foto tanpa henti, menemani anak melihat kereta berjam-jam, dan menikmati lelah bersama.

17 April 2026

Jum'at 603

Siang itu, bocil telah bersiap dengan topi, kursi portable dan tripod kesayangannya yang digendong penuh semangat. Dengan wajah antusias, ia terus merengek mengajak berburu kereta di JPL 603 Andong. Sebotol minuman dingin turut dibawa sebagai penawar terik, meski hawa panas di lokasi tetap terasa menyengat kulit.

Sesampainya di perlintasan, kami lebih dulu meminta izin kepada petugas JPL untuk menyaksikan lalu lintas kereta dari sisi yang aman. Suasana sederhana itu justru menghadirkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan, menunggu deru lokomotif melintas, mendengar suara klakson dari kejauhan, hingga melihat mata kecilnya berbinar setiap kali rangkaian kereta muncul di tikungan.

Menjelang pukul 15.00 WIB, kami pun pulang.

06 April 2026

Senin 613

Hari ini si bocil sudah semangat sejak siang. Hoodie favorit dipakai, tripod digendong sendiri, gaya kecil-kecil sudah seperti pemburu momen profesional. 😄
Awalnya kami berencana melihat kereta di Bayem. Perjalanan pun dimulai dengan santai sambil menikmati suasana sore yang mulai mendung. Namun setelah sampai, tempatnya terasa kurang nyaman untuk menikmati lalu-lalang kereta dan mencari spot yang pas.
Akhirnya kami memutuskan pindah ke JPL 613 Bandung Kidul. Suasananya lebih enak untuk menunggu kereta lewat. Bocil pun langsung sibuk memperhatikan rel, suara sinyal, hingga setiap kereta yang melintas. Sesekali tripod dipasang, seolah siap mengabadikan setiap momen terbaik hari itu.
Menjelang pukul 15.00, langit mulai berubah mendung dan gerimis kecil turun perlahan. Kami pun memutuskan pulang sebelum hujan semakin deras. Meski hanya perjalanan sederhana melihat kereta, sore itu tetap terasa menyenangkan. Ada cerita kecil, suasana rel, dan semangat bocil yang selalu bikin perjalanan jadi lebih berkesan.